![]() |
Bahkan, ketika ditanya, Ica menutup mukanya, dan bersandar ke polwan untuk berlindung dari wartawan. "Tidak ada apa-apa," ujar Ica sembari menangis di pangkuan seorang polwan.
|
PALEMBANG - RM alias Ica (23) tak berkutik saat
diciduk polisi, di salah satu hotel di Jalan Jenderal Sudirman
Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (7/5/2013).
Kala itu, Ica kepergok hendak melakukan transaksi bisnis
prostitusinya. Ia tak bisa bisa mengelak, ketika di saat bersamaan
petugas juga mengamankan dua gadis bernama ES (17) dan IH (17) yang
masih pelajar, dalam salah kamar hotel, yang menjadi korban Ica.
"Kedua korban dijanjikan uang Rp 2 juta. Dari keterangan tersangka,
nilai keperawanan yang hendak dijual Rp 5 juta, sedangkan untuk
tranksasinya berkisar Rp 2 juta," ujar AKP Arman Sahti, Wakasat Reskrim
Polresta Palembang.
Ketika dibawa ke ruang Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA)
Polresta Palembang, wanita berambut panjang yang mengenakan baju warna
kuning, terus menghindar ketika didekati wartawan.
Bahkan, ketika ditanya, Ica menutup mukanya, dan bersandar ke polwan untuk berlindung dari wartawan.
"Tidak ada apa-apa," ujar Ica sembari menangis di pangkuan seorang polwan.
Sementara, ES dan IH, terlihat trauma dan belum bisa dimintai
keterangan lebih banyak. Namun, keduanya memberikan sedikit komentar,
bahwa mereka dijanjikan uang masing-masing sebesar Rp 2 juta. Namun,
mereka harus lebih dulu melayani laki-laki di sebuah hotel.
"Kami disuruh masuk dalam kamar hotel dan standy by (menunggu). Kalau
sudah ketemu laki-laki yang datang dan sudah selesai, kami dikasih uang
Rp 2 juta," ungkap ES yang diikuti IH dengan anggukan kepala.
Berdasarkan pemeriksaan petugas penyidik sementara, Ica sudah
berulang kali melancarkan bisnis menjual keperawanan gadis. Ini
berdasarkan pengakuan kedua korban, yang salah satunya sudah tiga kali
melayani laki-laki atas perintah Ica, dengan imbalan sejumlah uang.
"Salah satu dari korban mengaku sudah tiga kali diperdagangkan.
Sedangkan satunya lagi mengaku baru kali ini ikut. Tersangka mengaku
menjual perawan Rp 5 juta, dan korbannya diimingi ponsel smartphone
seperti BlackBerry," papar AKP Arman.
Kasus ini terbongkar berkat aduan masyarakat, yang memberi informasi bahwa gelagat tersangka seperti mucikari.
sumber : tribun



